DUA

Hey, bagaimana rasanya meninggalkan?

Soalnya saya biasanya ditinggalkan.

Bagaimana rasanya dicintai?

Yang saya tahu rasanya hanya mencintai.

Lalu bagaimana dengan rasa diinginkan?

Selama ini saya selalu berada di posisi menginginkan.

Kasihan, ya.

Tapi, tidak.

Saya tidak butuh dikasihani. Hahaha

Apa bedanya jika semua itu terjadi?

Satu

Sebenarnya saya itu orangnya malas ngomong. Malas ngomong tapi maunya dingertiin 😔. Biasanya kalo orang nanya kamu kuliah di mana? Jurusan apa? Punya saudara berapa? Blah blah. Kalo sudah saya jawab tuh ga nanya balik lagi. Apakah saya termasuk orang yang ga kepo-an? Tapi kalo diajak chat-an saya suka kok. Malah lebih seneng chat daripada ngomong 😔. Malah di twitter saya sering bacot. Trust me, kamu akan seperti menemukan dua pribadi yang berbeda.

Saya ini ga pandai bersosialisasi. Anaknya pemalu dan terlalu dalam ketika memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Makanya hidupnya yah begini-begini saja. Tidak bisa keluar dari zona nyaman.

Bulan kemarin, iseng buka timeline facebook. Ada organisasi daerah yang buka pendaftaran untuk volunteer. Dan butuh waktu dua hari untuk mengambil keputusan buat daftar atau ga. Hasilnya udah pasti tau gimana. Gak jadi.

Selama dua hari itu saya capek berpikir dan menerka-nerka. Nanti gimana ya? Saya belum pernah nih ikut kegiatan begini. Ga akan nyusahin kan? Duh kegiatannya harus nginep di desa, sanggup ga ya? Saya kepengen tapi malas nginap. Nanti disana bakal ada ga ya yang mau temenan sama saya secara saya ini pendiam. Dan masih banyak lagi.
Oleh karena saya kecapekan mikirin itu, akhirnya saya ga ikut daftar. Saat itu saya pikir kalo ga daftar maka saya ga perlu mikirin itu lagi. Yo wes.

Tapi akhir-akhir ini saya berusaha keluar dari zona nyaman itu. Bukan berubah jadi supel dan ikut kegiatan sana-sini. Bukan. Semester ini saya melanjutkan studi di luar kota dan hidup sendirian. Pertama datang ke kota ini ga ada teman jalan, adanya ya teman-teman kuliah yang belum akrab. Alhasil kemana mana sendiri. Mainnya sendirian pula. Kalo masih tetap lanjut di kota asal mungkin saya ga akan rasain yang namanya nonton di cinema sendirian, makan di food court sendirian, jalan di mal sendirian, sampe nongkrong di keefsi sendirian. Padahal dulunya selalu ada yang temenin. Nah, itu termasuk usaha untuk keluar dari zona nyaman juga, kan?

Saya ga pinter bikin kata-kata penutup. Jelasnya ga tahu mau nulis apa lagi. Yo wes. Bye 👋

Menangis

Kali ini aku tidak menangis dalam hati. Meski ada sepatah dua kata yang terucap tetapi tetap tidak bisa ku temukan kata lain yang terpendam. Hari ke hari yang lain, apakah hanya terus hidup seperti ini?

Aku melihatmu tersakiti dan itu menyakiti hatiku lebih dalam lagi. Aku melihatmu menangis dan aku tak bisa berkata apapun untuk membuatnya lebih baik. Hatiku sakit.

Kudengar kau mengatakan tak ada yang menyayangimu tetapi aku menyayangimu lebih dari apapun. Dan engkau bertanya apa yang salah darimu. Tidak ada yang salah. Akulah yang bersalah.

Maafkan aku menjadi orang yang brengsek. Maafkan aku telah membuatmu mengeluarkan air mata. Maafkan aku tidak menjadi apa yang kau mau. Maaf karena aku tetap tidak berubah lebih baik.

(Lyric) Shin Yong Jae – Love You, Erase You, Cry Again [Three Days OST]

ROMANIZATION LYRICS

nae gaseumi neol bulleosseossna bwa naega himdeunga bwa nunmuri chaolla
wae ireohgedo seulpeunji molla babocheoreom ulgo issjanha nunmuri najanha
yawin eolgullo haru jongil neol chaja neo animyeon jeongmal andoeneunga bwa

neol saranghanda jiunda jiunda tto unda
jakku saenggagnajanha naega nunmuri manha
haruga ganda biunda neoreul biwo bonda
neoreul neoreul neoreul tto haruga ireohge ganda

kkumeseolado bogo sipeo nungama neol geurimyeo honja ulmeogijanha

neol saranghanda jiunda jiunda tto unda
jakku saenggagnajanha naega nunmuri manha
haruga ganda biunda neoreul biwo bonda
neoreul neoreul neoreul

nae teojil deushan gaseume michidorog apeun sarange na eotteohge sara neoreul bulleo bwa

neol saranghanda jiunda jiunda tto unda
jakku saenggagnajanha naega nunmuri manha
haruga ganda biunda neoreul biwo bonda
neoreul neoreul neoreul tto haruga ireohge ganda

HANGUL LYRICS

내 가슴이 널 불렀었나 봐 내가 힘든가 봐 눈물이 차올라
왜 이렇게도 슬픈지 몰라 바보처럼 울고 있잖아 눈물이 나잖아
야윈 얼굴로 하루 종일 널 찾아 너 아니면 정말 안되는가 봐

널 사랑한다 지운다 지운다 또 운다
자꾸 생각나잖아 내가 눈물이 많아
하루가 간다 비운다 너를 비워 본다
너를 너를 너를 또 하루가 이렇게 간다

꿈에서라도 보고 싶어 눈감아 널 그리며 혼자 울먹이잖아

널 사랑한다 지운다 지운다 또 운다
자꾸 생각나잖아 내가 눈물이 많아
하루가 간다 비운다 너를 비워 본다
너를 너를 너를

내 터질 듯한 가슴에 미치도록 아픈 사랑에 나 어떻게 살아 너를 불러 봐

널 사랑한다 지운다 지운다 또 운다
자꾸 생각나잖아 내가 눈물이 많아
하루가 간다 비운다 너를 비워 본다
너를 너를 너를 또 하루가 이렇게 간다

Tentang “NC Rated Fan Fiction” di Indonesia

distadee ad absurdum

I don’t know how to begin, .. (biasanya juga gitu)

Sudah lama sekali sebenarnya aku ingin menulis tentang hal ini, berawal dari keprihatinan aku sama liarnya imajinasi para penulis di dunia blogger yang semakin menggila, tapi nggak pernah tersampaikan secara tersurat dalam tulisan apapun di blog pribadiku. Alasannya sangat klasik, aku malas menuliskannya, hanya cuap-cuap penuh sarkas di dunia twitter aja menghujani timeline while abusing my followers. Tapi beberapa waktu yang lalu aku sempat membaca sebuah artikel tentang research kecil yang ditulis oleh Galih Respati Pradana Mukti di tumblrnya tentang “Studi Kausal Remaja Dibawah Umur Banyak Membaca FF NC Menggunakan Teori Penyebab Kecelakaan Domino Frank Bird” yang kemudian bikin aku jadi banyak berpikir sendiri, lalu tadaaa … aku tulislah sekarang post ini.

View original post 1,437 more words

menggambarkan emosi dalam cerita tanpa membuat karaktermu terlalu “sadar diri”

bisa di jadikan referensi untuk membuat karya tulisan 😀

Jia Effendie

janice hardy, seorang novelis amerika, menulis ini untuk romanceuniversity.org. saya mencoba menerjemahkannya untuk teman-teman 🙂

Image

emosi penting untuk membuat karakter terasa nyata. namun, mendeskripsikan mereka dari kejauhan terkadang membuat pembaca merasa “terputus” dari karakter tersebut. deskripsinya tidak terasa seperti perasaan karakter, tetapi seperti penulis memberi tahu pembaca bagaimana perasaan si karakter.

jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mungkin tidak akan terlalu terasa. namun, bagaimana jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas atau sudut pandang orang pertama? kita bisa saja kehilangan hubungan emosi dengan pembaca.

contoh:

“aku menyeka keringat dari alisku dengan tangan gemetar, sisa ketakutan dari pengalaman-hampir-mati-barusan mengalir lewat pembuluh darahku.”

apakah kamu merasakan ketakutannya? barangkali tidak, karena si tokohnya pun sepertinya tidak merasakannya. orang-orang yang sedang ketakutan tidak akan berpikir tentang apa yang mengalir di pembuluh darah mereka atau kenapa ia mengalir. mereka hanya merasakan dan bereaksi.

“dengan tubuh bergetar, aku beringsut ke bangku terdekat dan…

View original post 567 more words

What’s wrong with me?

Tuhan baik.

Saat menginjakkan kaki pertama kali disini, dalam hati aku berkata, aku harus bisa kuliah disini.

Lalu Tuhan mengabulkannya. Tapi mengapa sekarang aku ingin pergi keluar dari sini.

Regret always comes like that, come when you can not go back again..

 

 

Perpustakaan, UB. Malang, 30 Maret 2014. Pukul 15.14 pm.

 

 

nb: anginnya enak euy~ jadi ngantuk (ーー; )