menggambarkan emosi dalam cerita tanpa membuat karaktermu terlalu “sadar diri”

bisa di jadikan referensi untuk membuat karya tulisan 😀

Jia Effendie

janice hardy, seorang novelis amerika, menulis ini untuk romanceuniversity.org. saya mencoba menerjemahkannya untuk teman-teman 🙂

Image

emosi penting untuk membuat karakter terasa nyata. namun, mendeskripsikan mereka dari kejauhan terkadang membuat pembaca merasa “terputus” dari karakter tersebut. deskripsinya tidak terasa seperti perasaan karakter, tetapi seperti penulis memberi tahu pembaca bagaimana perasaan si karakter.

jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mungkin tidak akan terlalu terasa. namun, bagaimana jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas atau sudut pandang orang pertama? kita bisa saja kehilangan hubungan emosi dengan pembaca.

contoh:

“aku menyeka keringat dari alisku dengan tangan gemetar, sisa ketakutan dari pengalaman-hampir-mati-barusan mengalir lewat pembuluh darahku.”

apakah kamu merasakan ketakutannya? barangkali tidak, karena si tokohnya pun sepertinya tidak merasakannya. orang-orang yang sedang ketakutan tidak akan berpikir tentang apa yang mengalir di pembuluh darah mereka atau kenapa ia mengalir. mereka hanya merasakan dan bereaksi.

“dengan tubuh bergetar, aku beringsut ke bangku terdekat dan…

View original post 567 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s